|
Oleh; Syafitriandy
(Pendidik di SMA Negeri 2 Singkep-Kab. Lingga dan Komunitas LRS( Leutika Reading Society) Chapter Lingga) |
Suatu anugerah yang di berikan pencipta kepada kita ketika hadir di muka bumi ini dengan
menyandang label Muslim. Tanpa perlu bersusah payah mencari pembenaran akan
keyakinan ini, kita sudah mendapatkan justifikasi dari lingkungan kita berada.
Orang tua, keluarga dan lingkungan kita berada semuanya sudah menggambarkan
bahwa kita adalah Muslim. Ini merupakan suatu keberuntungan yang sangat luar
biasa, pernah kah terfikir oleh kita saat dilahirkan bukan dari rahim seorang
ibu yang memeluk Agama Islam dan di besarkan dalam lingkungan yang bukan
beragama Islam. Kita tentu masih mencari-cari sebuah keyakinan yang ideal dalam
konsep ketuhanan yang sebenarnya kita yakini. Namun sangat patut disayangkan
keberuntungan ini tidak kita sikapi dengan komitmen ber-Islam dengan
sesungguhnya. Tak pernah terpikirkan oleh kita untuk melakukan kontemplasi atau
perenungan sesaat, mengasah kepekaan kita dalam ber-Islam. Sehingga yang
terjadi adalah pemilihan kehendak agama kita sebagai seorang muslim hanya
kebetulan saja kita di besarkan dalam lingkungan yang mempunyai label Islam.
Ketika komitmen ber-Islam ini hanya sebatas
pemahaman, karena mayoritas lingkungan kita berada memeluk agama ini. Kita
berislam karena kebetulan orang tua kita Islam, dan orang tua kita berislam
karena kakek kita memeluk Islam dan seterusnya. Maka yang terjadi adalah
pewarisan nilai-nilai Rabbani yang
melandasi agama ini akan terkikis . Agama ini tidak lagi berdasarkan dari
ajaran Muhammad SAW dang pembawa risalah, namun lebih berakar pada sebuah
tradisi ritual yang kerapkali lebih di tonjolkan dari pada memahami esensi
Agama Islam itu sendiri. Sehingga yang terjadi di sekeliling kita adalah agama
ini merupakan warisan orang tua kita yang kita dapatkan dari kebiasaan
masyarakat sekitar kita dengan sebuah warisan turun temurun dan menjadi sebuah
kebiasaan masyarakat . Sehingga agama ini tidak lagi merupakan warisan nilai
nilai Rabbani namun ia lebih pada sebuah ajaran dari Warisan Sosial. Banyak
cara kita beragama karena mengikuti tren masyarakat, bukan lagi pada esensi
agama itu. Kebiasaan hidup dalam bermasyarakat
dijadikan ibadah rutin yang berakhir pada kewajiban beragama. Dengan
melakukan kewajiban ibadah seperti ini sedikit saja terjadi perbedaan dalam
melakukan cara pandang akan gampang terjadi benturan. Karena lebih menonjolkan
pada tataran emosianal.
Untuk mengatasi hal ini agar Islam yang kita
yakini ini bukan hanya sekedar warisan sosial saja, maka ada beberapa langkah
yang harus kita lakukan. Pertama; Menjadi manusia pembelajar, Sebagai
manusia yang memiliki kematangan
berfikir dan bertindak, kita harus berhasil membuktikan bahwa seorang Muslim
adalah manusia yang harus mampu membangun dirinya dengan kualitas lebih dari
kemampuan rata-rata manusia yang tidak mengenal Islam. Allah Swt telah
memberikan kepada kita lewat Muhammad SAW dengan wahyu yang pertamanya, Iqra (Bacalah). Ini telah cukup
memberikan tanda kepada kita bahwa tak ada jalan lain dalam membangun sebuah
mentalitas masyarakat agar tidak hanyut dalam persepsi warisan terhadap agama,
maka kita perlu membangun paradigma berfikir yang lebih jauh lagi dengan
gagasan yang konstuktif yakni menjadi pembelajar sejati. Pemikiran ilmiah yang
berorientasi pada keimanan hanya bisa kita dapatkan ketika akal manusia diajak
untuk berfikir tentang sebuah ajaran yang berorientasi pada nilai-nilai rabbani
bukan sosio historis.
Kedua; Membangun mentalitas manusia harakoh, Kehidupan dunia yang di berikan Allah
Swt kepada kita bukan sebagai kehidupan pribadi saja namun lebih berorientasi
pada kehidupan sosial, sebab dunia tempat kita hidup merupakan sebuah komunitas
manusia yang beragam, selalu ada intrik dan tarik menarik dalam merealisasikan
kepentingan, untuk itu dalam membangun sebuah pemahaman agama yang tidak hanya
sekedar warisan sosial dari sebuah kebiasaan masyarakat, kita perlu membentuk
sebuah gerakan yang massif dalam kehidupan sehingga apa yang kita dapat kan sebagai
manusia pembelajar bisa di transferkan kedalam sebuah penyadaran kelompok
masyarakat. Sejatinya kita harus mampu menempatkan diri kita dalam sebuah
haraokah atau gerakan keislaman yang massif dan menjadi pioner perubahan,
sehingga Islam yang kita yakini bukan
sekedar warisan sosial.
Jarak hidup kita dengan kerasulan Muhammad SAW
lebih kurang 1400 tahun yang lalu bukanlah merupakan suatu penghalang bagi kita
untuk mendapatkan mozaik peradaban yang
telah di ukir oleh Pemberi Teladan ini, selagi sumber abadi yang telah
ditingalkannya kepada kita, maka jalan itu masih tetap ada; “ aku tinggalkan kepada kalian dua buah
pusaka, selagi kalian masih berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak
akan tersesat selamanya; kitabullah dan sunnaturrasul”. ***

No comments:
Post a Comment
silahkan beri komentar konstruktif