Kepala SMKN 1 Lingga
Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
STAIN Sultan Abdurrahman Tanjungpinang
Musyawarah
Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Lingga Tahun 2027 yang baru
saja dilaksanakan menegaskan delapan isu strategis daerah yang dipaparkan
Bupati Lingga sebagai arah kebijakan pembangunan. Salah satu yang mendapat
perhatian penting adalah peningkatan ketahanan pangan dalam kerangka mewujudkan
visi “Lingga Berdaya Saing dan Sejahtera”. Penegasan ini menunjukkan bahwa
ketahanan pangan bukan lagi sekadar agenda sektoral, melainkan fondasi
kemandirian dan keberlanjutan ekonomi daerah. Sebagai wilayah kepulauan, Lingga
menghadapi tantangan distribusi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta
keterbatasan produksi lokal yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut,
penguatan sektor pangan menjadi kebutuhan strategis. Namun dibalik rumusan
kebijakan dan dokumen perencanaan, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita
jawab bersama: siapa yang akan menjaga dan mengelola pangan Lingga di masa
depan?
Laporan
The State of Food and Agriculture 2025 yang diterbitkan Organisasi Pangan dan
Pertanian Dunia (FAO) menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan
oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi sangat bergantung pada kualitas
sumber daya manusia yang mengelolanya (FAO, 2025). Tanpa regenerasi pelaku
usaha di sektor pangan, sistem pangan akan rentan meskipun lahan dan teknologi
tersedia. Laporan yang sama juga menunjukkan adanya pergeseran tenaga kerja
muda dari sektor agrifood dalam dua dekade terakhir, yang mengindikasikan
tantangan serius dalam regenerasi pelaku sektor pangan secara global (FAO,
2025). Tren ini menjadi peringatan bahwa keberlanjutan sistem pangan sangat
bergantung pada keberhasilan menarik, menyiapkan, dan mempertahankan generasi
muda di sektor tersebut.
Pendidikan
Vokasi sebagai Jawaban Strategis
Padahal,
wajah peternakan telah mengalami transformasi signifikan. FAO (2025)
menggambarkan bahwa sistem agrifood modern semakin berbasis inovasi, teknologi,
dan manajemen yang adaptif. Peternakan tidak lagi sekadar aktivitas
tradisional, melainkan sektor yang menuntut penguasaan nutrisi ternak,
kesehatan hewan, manajemen usaha, serta pemanfaatan teknologi digital dalam
produksi dan pemasaran. Keberlanjutan sistem ini sangat ditentukan oleh
kualitas sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Dalam
konteks Lingga, penguatan sektor peternakan menjadi bagian penting dari
strategi ketahanan pangan daerah. Produksi lokal harus diperkuat agar tidak
sepenuhnya bergantung pada pasokan luar. Namun produksi tidak akan berjalan
tanpa pelaku yang terampil dan terdidik. Maka disinilah pendidikan vokasi
memiliki peran strategis, pendidikan kejuruan yang selaras dengan potensi
daerah menjadi jembatan antara kebijakan pembangunan dan kebutuhan riil sektor
pangan. Sekolah Menengah Kejuruan dengan kompetensi Agribisnis Ternak
Ruminansia dapat menjadi ruang pembibitan generasi pangan yang profesional dan
berdaya saing.
SMKN
1 Lingga, misalnya, melalui program keahlian di bidang peternakan, berupaya
menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan kewirausahaan. Peserta didik
tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan manajemen pakan, kesehatan
ternak, serta pengolahan hasil. Pendekatan ini menjadi bagian dari kontribusi
pendidikan dalam mendukung agenda ketahanan pangan daerah.
Mengubah
Paradigma, Menyiapkan Masa Depan
Jika
Musrenbang RKPD 2027 telah menempatkan peningkatan ketahanan pangan sebagai isu
strategis daerah, maka penguatan sumber daya manusia sektor pangan harus
menjadi prioritas nyata. Ketahanan pangan tidak cukup dibangun melalui program
bantuan atau pembangunan infrastruktur semata. Ia membutuhkan generasi muda
yang memiliki kompetensi, keberanian berwirausaha, dan komitmen terhadap
potensi daerahnya sendiri. Ketahanan pangan pada akhirnya bukan sekadar soal
produksi daging atau susu, tetapi tentang keberlanjutan ekonomi keluarga,
stabilitas sosial, dan masa depan daerah. Visi “Lingga Berdaya Saing dan
Sejahtera” hanya akan bermakna jika kebutuhan dasar masyarakat dapat dijaga
secara mandiri dan berkelanjutan. Sekolah peternakan bukan sekadar tempat
belajar keterampilan teknis. Ia adalah ruang pembentukan generasi pangan, yakni
generasi yang memahami bahwa menjaga ternak berarti menjaga kehidupan, menjaga
ekonomi keluarga, dan menjaga masa depan Lingga.
Bagi
orang tua, menyekolahkan anak di SMK peternakan seharusnya tidak lagi dipandang
sebagai pilihan terakhir, melainkan pilihan strategis. Anak-anak tidak sekadar
disiapkan untuk bekerja, tetapi untuk menjadi bagian dari solusi bangsa. Mereka
dipersiapkan sebagai pelaku usaha, teknisi terampil, pendamping peternak
rakyat, bahkan wirausahawan muda di sektor pangan. Karena itu, perubahan
paradigma orang tua menjadi kunci. Anak-anak tidak boleh dibatasi oleh stigma
lama tentang pekerjaan tertentu. Justru, di tengah tantangan global dan
ketidakpastian ekonomi, sektor pangan adalah sektor yang akan selalu
dibutuhkan. Menyiapkan anak untuk terlibat di dalamnya berarti menyiapkan
mereka pada bidang yang berkelanjutan dan bermakna.
Sekolah
peternakan bukan sekadar tempat belajar keterampilan teknis, melainkan ruang
pembentukan generasi pangan—generasi yang memahami bahwa menjaga ternak berarti
menjaga kehidupan, menjaga ekonomi keluarga, dan menjaga masa depan bangsa.
Jika kita sepakat bahwa ketahanan pangan adalah kepentingan bersama, maka
mendukung pendidikan peternakan adalah langkah nyata yang harus dimulai hari
ini.
Pada akhirnya,
pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “mengapa anak harus sekolah di
peternakan?”, melainkan “siapa yang akan menjaga pangan kita jika bukan
anak-anak yang kita siapkan sejak sekarang?”. ***
Source link 👉klik : https://kepri.harianhaluan.com
No comments:
Post a Comment
silahkan beri komentar konstruktif