www.syafitriandy.com

Thursday, February 12, 2026

Sekolah Peternakan, Jalan Strategis Menyiapkan Generasi Pangan

 


Oleh: Syafitriandy

Kepala SMKN 1 Lingga
Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
STAIN Sultan Abdurrahman Tanjungpinang

 

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Lingga Tahun 2027 yang baru saja dilaksanakan menegaskan delapan isu strategis daerah yang dipaparkan Bupati Lingga sebagai arah kebijakan pembangunan. Salah satu yang mendapat perhatian penting adalah peningkatan ketahanan pangan dalam kerangka mewujudkan visi “Lingga Berdaya Saing dan Sejahtera”. Penegasan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan lagi sekadar agenda sektoral, melainkan fondasi kemandirian dan keberlanjutan ekonomi daerah. Sebagai wilayah kepulauan, Lingga menghadapi tantangan distribusi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta keterbatasan produksi lokal yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, penguatan sektor pangan menjadi kebutuhan strategis. Namun dibalik rumusan kebijakan dan dokumen perencanaan, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab bersama: siapa yang akan menjaga dan mengelola pangan Lingga di masa depan?

Laporan The State of Food and Agriculture 2025 yang diterbitkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya (FAO, 2025). Tanpa regenerasi pelaku usaha di sektor pangan, sistem pangan akan rentan meskipun lahan dan teknologi tersedia. Laporan yang sama juga menunjukkan adanya pergeseran tenaga kerja muda dari sektor agrifood dalam dua dekade terakhir, yang mengindikasikan tantangan serius dalam regenerasi pelaku sektor pangan secara global (FAO, 2025). Tren ini menjadi peringatan bahwa keberlanjutan sistem pangan sangat bergantung pada keberhasilan menarik, menyiapkan, dan mempertahankan generasi muda di sektor tersebut.

Pendidikan Vokasi sebagai Jawaban Strategis

Padahal, wajah peternakan telah mengalami transformasi signifikan. FAO (2025) menggambarkan bahwa sistem agrifood modern semakin berbasis inovasi, teknologi, dan manajemen yang adaptif. Peternakan tidak lagi sekadar aktivitas tradisional, melainkan sektor yang menuntut penguasaan nutrisi ternak, kesehatan hewan, manajemen usaha, serta pemanfaatan teknologi digital dalam produksi dan pemasaran. Keberlanjutan sistem ini sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Dalam konteks Lingga, penguatan sektor peternakan menjadi bagian penting dari strategi ketahanan pangan daerah. Produksi lokal harus diperkuat agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan luar. Namun produksi tidak akan berjalan tanpa pelaku yang terampil dan terdidik. Maka disinilah pendidikan vokasi memiliki peran strategis, pendidikan kejuruan yang selaras dengan potensi daerah menjadi jembatan antara kebijakan pembangunan dan kebutuhan riil sektor pangan. Sekolah Menengah Kejuruan dengan kompetensi Agribisnis Ternak Ruminansia dapat menjadi ruang pembibitan generasi pangan yang profesional dan berdaya saing.

SMKN 1 Lingga, misalnya, melalui program keahlian di bidang peternakan, berupaya menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan kewirausahaan. Peserta didik tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan manajemen pakan, kesehatan ternak, serta pengolahan hasil. Pendekatan ini menjadi bagian dari kontribusi pendidikan dalam mendukung agenda ketahanan pangan daerah.

 

Mengubah Paradigma, Menyiapkan  Masa Depan

Jika Musrenbang RKPD 2027 telah menempatkan peningkatan ketahanan pangan sebagai isu strategis daerah, maka penguatan sumber daya manusia sektor pangan harus menjadi prioritas nyata. Ketahanan pangan tidak cukup dibangun melalui program bantuan atau pembangunan infrastruktur semata. Ia membutuhkan generasi muda yang memiliki kompetensi, keberanian berwirausaha, dan komitmen terhadap potensi daerahnya sendiri. Ketahanan pangan pada akhirnya bukan sekadar soal produksi daging atau susu, tetapi tentang keberlanjutan ekonomi keluarga, stabilitas sosial, dan masa depan daerah. Visi “Lingga Berdaya Saing dan Sejahtera” hanya akan bermakna jika kebutuhan dasar masyarakat dapat dijaga secara mandiri dan berkelanjutan. Sekolah peternakan bukan sekadar tempat belajar keterampilan teknis. Ia adalah ruang pembentukan generasi pangan, yakni generasi yang memahami bahwa menjaga ternak berarti menjaga kehidupan, menjaga ekonomi keluarga, dan menjaga masa depan Lingga.

Bagi orang tua, menyekolahkan anak di SMK peternakan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, melainkan pilihan strategis. Anak-anak tidak sekadar disiapkan untuk bekerja, tetapi untuk menjadi bagian dari solusi bangsa. Mereka dipersiapkan sebagai pelaku usaha, teknisi terampil, pendamping peternak rakyat, bahkan wirausahawan muda di sektor pangan. Karena itu, perubahan paradigma orang tua menjadi kunci. Anak-anak tidak boleh dibatasi oleh stigma lama tentang pekerjaan tertentu. Justru, di tengah tantangan global dan ketidakpastian ekonomi, sektor pangan adalah sektor yang akan selalu dibutuhkan. Menyiapkan anak untuk terlibat di dalamnya berarti menyiapkan mereka pada bidang yang berkelanjutan dan bermakna.

Sekolah peternakan bukan sekadar tempat belajar keterampilan teknis, melainkan ruang pembentukan generasi pangan—generasi yang memahami bahwa menjaga ternak berarti menjaga kehidupan, menjaga ekonomi keluarga, dan menjaga masa depan bangsa. Jika kita sepakat bahwa ketahanan pangan adalah kepentingan bersama, maka mendukung pendidikan peternakan adalah langkah nyata yang harus dimulai hari ini.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “mengapa anak harus sekolah di peternakan?”, melainkan “siapa yang akan menjaga pangan kita jika bukan anak-anak yang kita siapkan sejak sekarang?”. ***

Source link  ðŸ‘‰klik : https://kepri.harianhaluan.com

 

No comments:

Post a Comment

silahkan beri komentar konstruktif