Oleh: Syafitriandy (Aktivis Harakie Institute, Staff Kaderisasi KAMMI Daerah Kepulauan Riau)
Bagi kita menghadirkan kembali sebuah generasi
yang sempat digjaya di pentas sejarah
bukanlah merupakan sebuah kemustahilan, namun lebih dari itu merupakan
keniscayaan. Sejarah telah membuktikan manusia–manusia tak berperadaban yang
tinggal di daerah tandus dan tidak masuk dalam hitungan dua Imperium Besar
Parsi dan Romawi pada waktu itu mampu mengubah mozaik sejarah. Tanah arab hanyalah sebuah daerah yang
tandus. Namun disinilah generasi pejuang dan pembebas ini terbentuk. Generasi
yang berjuang dengan keyakinan ideologinya dan membebaskan manusia dari
belenggu hedonisme dan pragmatisme tentang kehidupan. Generasi ini tak
hanya menguasai Jazirah Arab namun
sampai kebelahan Eropa, Afrika dan Asia. Apa gerangan? sebuah pertanyaan yang harus disentakkan kedalam
jiwa ummat ini, kenapa mereka tiba tiba sampai mampu membalik keadaan, dari
orang – orang yang tidak mempunyai peradaban, jahiliyah, namun mampu menaklukan
dunia, menjadi sebuah bangsa yang
beradab, bahkan peradaban mereka di perhitungkan dalam kancah pertarungan
global dan hingga saat ini ajaran –
ajaran mereka masih kita nikmati sampai sekarang. Keyakinan kita pun sama menyatakan bahwa inilah
ajaran yang baik dan sempurna.
Namun disadari atau tidak kesempurnaan itu masih sebatas tataran teoritis
belum masuk dalam ranah praktis kehidupan kita sekarang ini. Bagi kita kerinduan
akan hadirnya sebuah Generasi Rabbani, generasi yang selalu dekat dengan
Tuhannya, generasi yang tak pernah meninggalkan tuhannya dalam keadaan apapun,
generasi yang selalu peduli dengan kejumudan umatnya adalah sebuah kemestian dan keniscayaan. Kepedulian
yang tak hanya terpaku pada bibir – bibir manusia intelektual agamis yang habis
di meja diskusi, namun harus bersemayam dan terpatri dalam diri mereka entah
apapun profesinya, tukang ojek, petani, nelayan,mahasiswa, guru, pegawai dan
setiap mereka yang mengaku sebagai manusia muslim. Dengan kepedulian seperti
ini akan timbul kesadaran kolektif, sebuah kesadaran yang tak hanya milik
mereka yang berstatus da’i atau mubaligh saja, atau mereka yang hanya bekerja
dalam institusi keagamaan saja. Namun kepedulian yang membumi pada mereka yang
berprofesi diluar itu selagi menyandang sebagai manusia muslim dan mengakui
Islam sebagai agamanya.
Untuk membangun kesadaran kolektif ini langkah yang
harus kita lakukan adalah merekonstruksi kepribadian manusianya, karena
membangun kesadaran tanpa membentuk manusianya adalah sebuah ilusi. Tahapannya
adalah; pertama, membangun afiliasi , merupakan langkah awal dimana kita bergabung dan
memperbaharui kembali komitmen kepada Islam, menjadikan Islam sebagai basis
identitas yang membentuk paradigma, mental dan karakter. Dalam langkah ini kita
memperbaharui komitmen kita dalam tiga hal yakni komitmen akidah, yang membuat
kita harus memahami satuan ajaran-ajaran Islam sebagai sistem dan tatanan
sehingga mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa, komitmen ini akan
melahirkan cara kita merasa. Kedua, komitmen ibadah, yang mementukan pola dan
jalan kehidupan atau cara kita menjalani kehidupan, komitmen ini akan membentuk
cara kita berfikir. Ketiga komitmen akhlak yang menentukan pola sikap dan
perilaku dalam seluruh aspek kehidupan kita, komitmen ini kita sebut dengan tahapan iman dan amal
soleh. Satuan-satuan kebenaran yang kita pahami dan yakini di laksanakan dalam
kehidupan sehari – hari, hal ini akan membentuk cara kita bersikap. Dalam
tahapan afiliasi ini terbentuk pribadi shaleh secara individu. Kedua;
partisipasi, dimana kita sebagai manusia muslim telah mencapai kesempurnaan
pribadi dan larut dalam lingkaran kekhusyukan iman dan amal sholeh, maka kita
harus melebur kedalam masyarakat, menyatu, dan bersinergi dengan mereka, guna
mendistribusikan keshalehan kita. dalam tahapan ini akan terbentuk kesalehan
secara sosial. Ketiga; Kontribusi,
kita tidak dapat menjadi segalanya dan tidak akan pernah sanggup
melakukan segalanya, kemampuan kita terbatas
maka dalam tahapan kontribusi ini adalah kita harus memilih salah satu
bidang spesialisasi kita dan menajamkan posisi tersebut serta menyumbangkanya kepada islam dan
ummatnya setulus tulusnya. Dalam
tahapan ini akan terbentuk komunitas masyarakat yang shaleh secara sosial dan profesional.
Dengan
melakukan ketiga tahapan tersebut, kita akan menggabungkan tiga kekuatan
sekaligus, yakni kekuatan pribadi, kekuatan sosial, dan kekuatan profesional.
Kita menjadi kuat secara pribadi karena memilki paradigma kehidupan yang benar
dan jelas, struktur mentalitas yang solid dan kuat. Kita menjadi kuat secara
sosial karena memiliki kesadaran partisipasi yang kuat, aset kebajikan yang
terintegrasi dengan komunitasnya. Dan kita menjadi kuat secara profesi karena bekerja pada bidang yang
menjadi kompetensi intinya. Hal
ini menyebabkan ia selalu berorientasi pada amal, karya dan prestasi serta
secara konsisten melakukan perbaikan dan pertumbuhan yang berkesinambungan.
Setiap kejadian akan selalu berulang dalam
kehidupan kita, hanya ruang dan waktu yang berbeda. Rasulullah SAW telah
melakukan apa yang semestinya harus dilakukan dalam membentuk generasi Rabbani,
tinggal kita untuk memulai apakah kita yang akan mengulang sejarah tersebut
atau kita tak terdaftar dalam orang –orang yang ada dalam mozaik sejarah
peradaban Islam. Rasulullah telah melakukan rekonstruksi kepribadian-
kepribadian yang sahabat yang awalnya mereka adalah manusia-manusia yang hidup
dalam lingkungan kejahiliyahan. Namun mampu mengukir sebuah mozaik sejarah yang
tak terbantahkan. Orang gurun yang awalnya memiliki temperamen yang
berbeda-beda serta latar belakang sosial yang berbeda pula namun satu persepsi dalam
membumikan ajaran Islam ini sehingga timbul sebuah kesadaran kolektif dalam
menjaga eksistensi agama ini dimuka bumi dengan terus mencetak generasi
Rabbani, generasi yang selalu peduli dengan tuhan dan agamanya bukan hanya
dalam tataran teoritis namun praktis. Kita telah memiliki warisan abadi berupa
Standart Operating Procedure (SOP) yakni Al Quran dan perangkat turunannya yang
telah dipraktikan oleh para aktor, terbukti mampu membuat pentas sejarah ini
dipenuhi manusia – manusia besar yang senantiasa berfikir dan berjiwa besar.
Tinggal bagaimana kita menterjemahkan dalam ranah empiris agar Islam tetap
terjaga eksistensinya secara kualitas dan kuantitas tentunya atau kebesaran agama ini hanya sekedar cerita
masa lalu yang di jadikan bahan bacaan atau pelajaran sekedar pelengkap hidup.***
Terbit: Batam Pos, 12 Juni 2009

No comments:
Post a Comment
silahkan beri komentar konstruktif