Sadarkah kita, tatkala memasuki usia dewasa, tanpa
melalui proses yang berliku, tiba-tiba telah mendapati diri kita seorang
Muslim. Orang tua, suasana rumah, dan lingkungan sekitar, telah membawa kepada suasana batin yang penuh iman dan larut
dalam tradisi ubudiah, dan kita harus bersyukur . Merupakan suatu
keberuntungan ketika dilahirkan dalam
keturunan Islam, karena tanpa di sadari
kita telah terkontaminasi dalam ritualitas ibadah-ibadah yang telah ditetapkan
dalam agama ini. Namun lebih merupakan suatu keberuntungan bagi kita ketika
dalam ber-Islam melakukan pencarian makna ber-Islam sesungguhnya, dengan
melakukan kontemplasi – kontemplasi tanpa meninggalkan ritual ibadah yang kita pahami selama ini. Kita meyakini bahwa itu merupakan
perintah dari pencipta yang kita kenal dengan nama Allah Swt, suatu zat
yang mutlak yang harus diakui oleh umat
manusia. Tanpa melakukan kontemplasi tentang makna sesungguhnya dalam berislam,
ia sudah terkena percikan–percikan dari lingkaran konsekwensi keimanan. Namun,
disinilah letak kejumudan berfikir sebagian kaum muslimin dalam melakukan
kontemplasi berislam sesungguhnya, dengan merasa dilahirkan dalam keluarga yang
menganut Agama Islam, sudah merasa berislam dengan sesungguhnya, disadari atau
tidak, ritual yang kita jalankan adalah sebagai rutinitas ritual belaka. Tanpa
memaknai beribadah dalam arti sesungguhnya maka ibadah yang dilakukan tidak
memiliki dimensi spiritual yang membumi dan menghunjam didalam diri manusia.
Faktanya ritual ibadah yang kita jalani tidak berbanding lurus dengan
implementasi style hidup kita, yang
terjadi dilapangan ummat Islam mayoritas
dalam kuantitas selalu kalah memenangkan
pertarungan eksistensi agamanya di muka
bumi, penindasan, pelecehan dan pemasungan hak–hak manusia dan selalu umat
Islam dijadikan korban .
Internalisasi diri
Fathi Yakan seorang
aktivis gerakan Islam menjelaskan bahwa ber-Islam dalam arti sesungguhnya
dengan orisinalisasi pemahaman dan pelaksanaan yakni pada tataran teoritis
sampai menghadirkan dalam dunia empiris sehingga menjadikan muslim yang
komitmen terhadap Islam dan menginternalisasi nilai – nilai agama dalam dirinya
serta melakukan internalisasi Islam kepada setiap umat manusia khususnya ummat
Islam yakni membentuk pribadi Islam yang meng-Islamkan pribadi lain (muslim
haroki)
Komitmen kepada Islam bukanlah warisan
atau keturunan. Bukan pula komitmen sebatas penampilan luar, melainkan komitmen
menyesuaikan diri dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Islamisasi diri
sebagai langkah awal internalisasi Islam dalam pribadi diantaranya adalah;
mengislamkan aqidah, ibadah, akhlak, keluarga, lingkungan dan mampu mengalahkan
hawa nafsu serta meyakini bahwa hari esok milik Islam. Setelah internalisasi
Islam kedalam diri, ternyata tidak cukup dengan menata kesholehan pribadi saja.
Harus ada langkah kedua yakni pribadi yang islam itu harus melakukan penetrasi
dengan mengajak orang lain untuk mengikuti langkahnya sehingga terciptalah
pribadi Islami yang membentuk komunitas islami (Muslim Mujahidun). Dalam
melakukan penetrasi, muslim tidak bisa melakukannya sendiri–sendiri harus ada gerakan
yang terorganisir dalam merealisasi keinginan tersebut, inilah yang disebut
dengan Harokah Islamiyah yang merupakan bagian kedua yang harus dilakukan oleh
pribadi–pribadi Islami tersebut yakni; berkontribusi aktif dan mempunyai
komitmen dalam gerakan keislaman dengan cara mempersembahkan hidup dan meyakini
kewajiban berjuang hanya untuk Islam dan memahami pilar–pilar perjuangan Islam.
Tiga langkah rekonstruksi
Agar tercipta jarak yang dekat antara Islam dan
Manusia Muslim sehingga internalisasi nilai rabbani semakin kuat maka ada tiga
tahapan rekonstruksi yang harus dilakukan: pertama,
tahapan afiliasi, yakni memperbaharui afiliasi kaum muslimin kepada Islam
kembali, sebab keislaman kaum Muslimin saat ini lebih banyak dibentuk oleh
warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam
tentang Islam. Keislaman dengan basis seperti ini tidak memiliki imunitas yang
membuatnya mampu bertahan dari semua bentuk invasi budaya. Oleh karena itu,
sebuah goncangan kecil sudah cukup memadai untuk mengubah warna kehidupan kaum
Muslimin.
Kedua,
tahapan partisipasi, setelah
memperbaharui keislaman dan memperbaiki pemahamannya kepada Islam, setiap
Muslim harus dibawa kedalam komunitas Muslim yang besar, dimana ia menjadi
bagian dari masyarakat dan berpartisipasi membangun masyarakat tersebut. Pada
tahapan pertama kita menciptakan manusia Muslim yang shalih, maka tahapan kedua
manusia yang shalih itu kita leburkan kedalam masyarakat, agar ia mendistribusi
keshalihannya kepada yang lain, agar keshalihan individu itu berkembang menjadi
keshalihan kolektif
Ketiga,
tahapan kontribusi,
setiap Muslim harus memberikan kontribusi aktif, sekecil apapun peranannya
dalam masyarakat sangat menentukan eksitensi Islam ini di tengah-tengah
kehidupan ummat manusia sehingga berpengaruh dalam setiap dimensi kehidupan.
Islam, bagaimanapun dapat
dengan mudah memenangkan pertarungan di tataran ideologi dan pemikiran,
meskipun pertarungan yang sesungguhnya terletak diantara kenyataan; dikeramaian
jalanan, di kegaduhan pasar, di belantara politik, di panggung budaya, di
tengah desingan mesiu, dan diseluruh pojok bumi. Oleh karena itu kebenaran Islam layaknya sebuah pedang tajam
yang telah terhunus, dan sedang menanti tangan perkasa dari sang pahlawan.
Inilah tugas yang harus dilakukan manusia yang
mereka terlahir dalam Keturunan Islam, agar Islam tidak hanya labelisasi saja
untuk mendapat legalitas dalam hidup bermasyarakat dan bernegara ending dari
semua itu adalah eksistensi agama ini harus terjaga di muka bumi ini secara
kuantitas dan kualitas tentunya.***
Terbit: Batam Pos, 23 Januari 2009

No comments:
Post a Comment
silahkan beri komentar konstruktif